Seorang lelaki paruh baya duduk di salah satu bangku besi panjang. Menunggu dengan cemas, sesekali matanya mengarah ke ruangan yang ada di salah satu sudut rumah sakit.
Pikirannya campur aduk dan ia seakan tak bisa duduk tenang, menunggu kepastian nasib orang tercintanya. Mempertaruhkan nyawa dirinya atau calon sang buah hatinya. Kini istri sedang melalui proses menjadi seorang ibu dan dirinya menjadi seorang: Ayah muda.
Kita sering mendengarkan kata-kata bijak:
Rezeki sudah diatur, sebagaimana pun usaha tetap sudah ada kadarnya.
Tak ada makhluk di dunia ini yang tak kebagian rezeki, Sang pencipta sudah membagi rata bahkan hingga hewan pengerat yang hidup di bawah akar pepohonan. Ia juga tetap kebagian sesuai kadarnya.
Manusia? Apa lagi.
Saya sering sekali mendengar kata-kata pesimistis seorang yang kesulitan mencari pekerjaan. Bingung silih kemari karena semua berkas lamarannya ditolak. Sambil menggerutu ia berujar: bila tidak dapat kerjaan, makan apa besok dan bagaimana melunasi kontrakan yang mulai ditagih.
Mengenal Penulis
Top of The Top
-
Gunung terlihat menjulang tinggi, seperti ingin sekali menusuk-nusuk langit. Rupanya yang menjulang terlihat begitu gagah dari kejauhan. Sem...
-
Langit sore kali ini sedikit sendu, ia dipenuhi kumpulan awan putih yang menghambat sinar matahari. Hanya sedikit celah saat matahari menc...
-
Abang harus latihan tenis, seru kali tau....!! Sebuah himbauan yang mengejutkan pikiranku hening berpikir, diriku seakan tak bisa atau tah...
-
Penyakit merah jambu bisa datang tak terduga, mengacaukan seluruh organ tubuh dengan sejumlah rasa yang saling campur aduk. Pikiran pun seak...
-
Siang itu jadi hari yang sibuk, sudah saatnya ia bergegas pergi. Jadwal penampilannya hanya tinggal menghitung separuh jam lagi. Memacu deng...











