Saya ingat betul momen itu.
Bangun tidur, mau berdiri dari kasur, dan lutut kanan terasa ngilu tanpa sebab
jelas. Bukan karena jatuh, bukan karena cedera olahraga. Hanya karena bangun
tidur. Di situ saya sadar, usia kepala tiga memang bukan main-main.
Dulu waktu belasan sampai dua
puluhan, badan ini rasanya kebal. Lari kencang, jatuh, bangun lagi, main bola
sampai malam, besoknya masih segar. Sekarang beda jauh. Gerakan melambat, sendi
minta pemanasan lebih lama, dan kalau cedera datang, dia betah tinggal
berminggu-minggu, kadang berbulan. Ibarat motor lawas, masih bisa kencang tapi
harus rajin ke bengkel.
Abang harus latihan tenis, seru kali tau....!!
Sebuah himbauan yang mengejutkan pikiranku hening berpikir, diriku seakan
tak bisa atau tahu bagaimana tenis. Itu mungkin hanya salah satu dari olahraga
yang bikin mengantuk. Adrenalin hanya terpacu saat kejar-kejaran skor,
selebihnya hanya tepuk tangan saat pukulan masuk.
Begitulah yang ada di dalam pikiranku, saat mendengar
permainan ini. Bagiku permainan yang terhalang oleh net seakan membosankan. Tak
ada kontak fisik, hanya mereka yang paling tangkas membalikkan bola paling
akurat dan cepat. Mungkin bagiku yang terbesit cuman tenis di meja, selebihnya
olahraga net lainnya tak menarik bagiku.
Waktu menunjukkan pukul 20:00 WIB, keberangkatan
tinggal di depan mata. Para kernet tengah sibuknya mendata penumpang yang sudah
naik ke dalam bus. Mekanisme perusahaan bus mengharuskan mereka berangkat tepat
waktu. Mereka yang terlambat artinya harus gigit jari, karena ketepatan waktu
adalah jargon perusahaan.
Semua penumpang akhirnya di data dengan seksama
sesuai dengan tempat duduknya. Ini bertujuan agar tak ada penumpang ilegal yang
masuk. Hingga akhirnya proses keberangkatan dimulai, ini bertujuan bisa tiba sesuai
dengan jadwal.
Di sebuah sudut kota yang penuh hiruk-pikuk, ada sebuah
barbershop kecil yang tak terlalu mencolok. Dindingnya berwarna abu-abu tua,
dihiasi dengan poster-poster klasik yang menggambarkan potongan rambut dari era
yang berbeda.
Para model yang terpampang di sana ibarat pahlawan sebenarnya.
Mereka seakan memberikan pencerahan di tengah keraguan pria dalam memilih
potongan rambut. Pria memenang manusia yang aneh dan tak neko-neko.

Rasanya pertemuan singkat
kita rasanya begitu hambar. Ada rasanya yang aneh saat pertemuan itu terjadi.
Ternyata semua tak seperti yang menjadi prediksi aku sebelumnya, ada hal
mengganjal yang menyakitkan hati.
Pertemuan di salah satu bilangan cafe berakhir
prematur, bahkan bisa dianggap sesuatu yang canggung. Niat awal untuk saling
deeptalk berakhir deepsilent tanpa satu pun yang mengungkap perasaannya.
Ini
bisa dibilang pertemuan pertama denganmu. Semua persiapan coba lakukan,
mempersiapkan segala hal. Terlepas apa yang nantinya kita bicarakan. Pertemuan
nyata jauh lebih mendebarkan dibandingkan dengan pertemuan di ruang chatting.
Kita rasa
tak saling mengenal sepenuhnya di sana, hanya chat panjang yang kadang
terdengar basi atau bahkan emoji yang tidak bisa menggambarkan sepenuhnya.
Pertemuan di meja di coffe shop adalah bukti.
Secara tak langsung jawaban yang kamu berikan
perlahan berkurang. Rasanya tak asyik seperti dulu, seakan ada benteng besar
yang menghalangi di dirimu. Setiap aku membuka ponsel, selalu ada jawaban dari
dirimu.
Rasanya aku seperti senyum-senyum sendiri saat
chatting dengan kamu. Dopamin berpacu dengan sangat banyak, memenuhi otak yang
membuat hati begitu bergembira. Aku merasa begitu gembira dengan itu semuanya.