Ketika Tubuh Menua tapi Rutinitas Menolak Melambat
Saya ingat betul momen itu.
Bangun tidur, mau berdiri dari kasur, dan lutut kanan terasa ngilu tanpa sebab
jelas. Bukan karena jatuh, bukan karena cedera olahraga. Hanya karena bangun
tidur. Di situ saya sadar, usia kepala tiga memang bukan main-main.
Dulu waktu belasan sampai dua puluhan, badan ini rasanya kebal. Lari kencang, jatuh, bangun lagi, main bola sampai malam, besoknya masih segar. Sekarang beda jauh. Gerakan melambat, sendi minta pemanasan lebih lama, dan kalau cedera datang, dia betah tinggal berminggu-minggu, kadang berbulan. Ibarat motor lawas, masih bisa kencang tapi harus rajin ke bengkel.
Dari situ saya mulai serius
mengatur pola latihan. Bukan ganti olahraga baru, cuma mengubah caranya. Saya
gabungkan kardio dengan angkat beban, dua hal yang akhirnya jadi rutinitas
wajib sampai sekarang.
Kenapa Angkat Beban Wajib di Usia 30-an
Alasannya bukan cuma soal
bentuk badan. Memasuki usia 30-an, massa otot menyusut sekitar 3 sampai 8
persen tiap tahun, seperti yang tertulis di jurnal Sarcopenia: A Review.
Kedengarannya kecil, tapi kalau dibiarkan bertahun-tahun tanpa diimbangi
latihan, dampaknya terasa sampai ke kualitas gerak sehari-hari.
Untuk menahan penyusutan itu,
saya latihan beban empat sampai lima kali seminggu, total durasi sekitar 150
menit. Targetnya bukan cuma otot besar, tapi densitas tulang dan kelenturan
sendi supaya tetap bisa gerak leluasa sampai tua nanti.
Kardio juga tidak saya
lewatkan. Jantung yang terlatih memompa darah lebih efisien ke seluruh tubuh,
termasuk ke otak, dan risiko serangan jantung di usia tua ikut turun. Anehnya,
anak-anak muda sekarang malah kurang gerak dibanding generasi saya dulu. Padahal
kardio harusnya jadi kebiasaan sejak muda, bukan baru dimulai setelah badan
mulai protes.
Buat yang masih berjuang
dengan berat badan lebih atau obesitas, saran saya sederhana: mulai dari jalan
kaki dulu. Lari terlalu dini dengan beban badan berlebih justru bikin lutut
cepat rusak. Jalan kaki jauh lebih aman untuk sendi sambil tetap membakar kalori.
Rutinitas ini yang saya jalani
sampai hari ini, dan hasilnya kerasa. Badan tetap fit, aktivitas harian jadi
lebih ringan dijalani. Kalau kamu baru menginjak kepala tiga dan mulai
merasakan tanda serupa, mungkin ini saatnya mulai membenahi ritme sebelum tubuh
benar-benar memberi peringatan lebih keras.
Menjaga Performa di Tengah Kesibukan Kantoran
Di luar urusan kebugaran, ada
satu hobi yang saya perjuangkan mati-matian sampai sekarang: sepak bola. Target
saya sederhana, tetap bisa main sampai usia 40-an. Ronaldo saja masih
kompetitif di usia kepala empat, kenapa saya tidak coba, walaupun tentu levelnya
jauh berbeda.
Saya main sebagai kiper sejak
kecil. Semakin tua, badan makin lambat, sementara permainan modern justru makin
cepat. Tim yang bermain dengan garis pertahanan tinggi menuntut kiper ikut
memotong pergerakan lawan, peran yang sekarang dikenal dengan istilah sweeper
goalkeeper. Kiper jadi pengumpan pertama dari lini belakang, bukan cuma
penjaga gawang biasa.
Untuk tetap bertahan di posisi
itu, ada harga yang harus dibayar. Saya pernah cedera cukup parah, mulai dari
pergelangan tangan, rusuk, sampai engkel. Dari situ saya mulai belajar sport
science, terutama soal mengenali kelemahan tubuh sendiri supaya tidak
terus-menerus cedera.
Semuanya dimulai dari hal
sederhana: pemanasan. Kedengarannya remeh, tapi efeknya besar. Tubuh yang siap
sebelum bergerak jauh lebih tahan terhadap benturan, dan kalaupun cedera
terjadi, biasanya tidak terlalu parah karena ada respons awal dari otot dan sendi.
Dari Gym yang Amburadul Menuju Rutinitas 4 Hari Seminggu
Saya juga daftar ke pusat
kebugaran. Di sana saya belajar banyak hal baru, mulai dari cara pakai alat
sampai fungsi otot yang selama ini cuma saya latih asal-asalan. Otot yang lebih
besar dan kuat ternyata menurunkan risiko cedera saat main bola. Sebenarnya
niat ke gym sudah ada sejak kuliah, cuma waktu itu jadwalnya berantakan dan
hasilnya tidak pernah kelihatan.
Baru setelah pandemi berakhir,
gym jadi rutinitas tetap, empat hari seminggu dengan pembagian otot sesuai
harinya. Hasilnya mulai kelihatan: bahu makin membidang, lengan lebih berisi,
perut lebih rata, kaki lebih kuat menapak.
Latihan saja ternyata tidak
cukup. Ada tiga hal yang harus jalan bareng: latihan yang benar, nutrisi yang
cukup, tidur yang cukup. Nutrisi sering jadi yang paling diabaikan. Kalau menu
harian didominasi fast food dan junk food, hasil latihan sekeras apa pun akan
mengecewakan.
Sebaliknya, tubuh yang dapat
asupan real food memperbaiki diri jauh lebih baik. Otot yang rusak saat latihan
butuh nutrisi tepat untuk pulih dan tumbuh lebih kuat. Tidur juga sama
pentingnya, karena di malam hari tubuh benar-benar memperbaiki dirinya. Kebiasaan
main HP sebelum tidur sebaiknya dihindari karena mengganggu produksi melatonin,
hormon yang bikin tidur nyenyak dan bangun dalam kondisi segar.
Ketika Mata Jadi Aset Paling Berharga
Menyeimbangkan kerja kantoran
dengan hobi fisik bukan hal mudah. Bayangkan delapan jam menatap laptop bersama
klien, sore lanjut main bola, malam masih sempat ke gym. Badan otomatis capek,
tapi yang paling terasa lelahnya justru mata.
Mata jadi organ paling vital
dalam semua rutinitas ini. Di kantor dia fokus menatap layar berjam-jam. Di
lapangan perannya sama pentingnya, terutama saat membaca arah bola yang melaju
sampai 100 km/jam. Kondisi lapangan jarang bersahabat, ada debu, terik
matahari, silau senja yang mengganggu penglihatan. Belum lagi kalau main di
lapangan mini malam hari, cahaya lampu yang terlalu terang atau terlalu redup
sama-sama bikin mata cepat lelah.
Perjalanan menuju lapangan
atau gym juga jadi tantangan sendiri. Lapangan di kota saya terbatas, jadi
sebagian besar lokasi ada di luar kota, kadang butuh waktu tempuh sampai satu
jam dan sering macet. Debu serta asap kendaraan menembus celah helm sepanjang
jalan. Rute ke gym juga tidak jauh beda, lewat kawasan industri yang penuh
polusi.
Musim ikut menambah tantangan.
Saat kemarau, lapangan bola mengering dan berdebu, terutama di kotak penalti
tempat kiper banyak bergerak. Saat musim hujan, gantian lumpur dan becek yang
mengintai. Posisi kiper yang sering terlibat duel udara dan jatuh bangun bikin
mata jadi bagian tubuh yang paling sering kena risiko iritasi.
Kalau debu atau kotoran sudah
telanjur masuk mata, langkah paling aman adalah membilas dengan air bersih
mengalir, bukan mengucek. Mengucek justru memperparah iritasi, bisa sampai
melukai permukaan mata dan bikin merah serta berair. Rasanya menyebalkan, niat
olahraga malah mata yang jadi korban.
Menulis Blog dan Jurnal, Hobi yang Diam-diam Menguras Mata
Selain urusan fisik, saya
punya kegiatan lain yang juga menyita mata: menulis blog dan jurnal ilmiah.
Blog saya usahakan rutin diisi setiap minggu, dan setiap tulisan butuh riset
panjang dari berbagai sumber digital, mulai dari jurnal, berita, media sosial,
sampai podcast. Semua itu menuntut mata bekerja ekstra sebagai indra utama
penangkap informasi.
Untungnya sampai sekarang saya
masih bebas dari mata minus atau gangguan penglihatan lain, sesuatu yang saya
syukuri karena beberapa anggota keluarga sudah pakai kacamata. Untuk menjaga
kondisi ini saya menghindari membaca di ruangan remang-remang dan mengurangi
kebiasaan buka HP sebelum tidur, apalagi kalau kamar sedang gelap. Cahaya biru
dari layar HP bukan cuma bikin mata cepat lelah, tapi juga mengganggu kualitas
tidur, yang akhirnya bikin tubuh kurang segar keesokan harinya. Solusinya cukup
praktis: jauhi HP jelang tidur, pakai pencahayaan cukup saat membaca,
manfaatkan fitur eye comfort shield atau dark mode di HP.
Urusan blog tidak berhenti di
tulisan saja. Saya biasa menambahkan gambar yang menarik perhatian pembaca, dan
prosesnya kadang lebih lama dari menulis artikelnya sendiri. Satu artikel bisa
memakan waktu tiga sampai lima hari termasuk riset, sementara gambar
pendukungnya bisa makan waktu dua hari sendiri. Ditambah lagi strategi SEO dan
promosi media sosial supaya tulisan sampai ke pembaca, bukan cuma tenggelam di
halaman kesekian mesin pencari.
Menulis jurnal internasional
beda arah dengan menulis blog. Blog mengandalkan kreativitas dan gaya bahasa
yang atraktif. Jurnal menuntut ketelitian metode, kepatuhan pada kaidah ilmiah,
dan orisinalitas temuan. Setiap klaim harus didukung referensi primer,
metodologi harus dijabarkan transparan, bahasanya wajib objektif. Kalau di blog
koreksi datang dari pembaca lewat kolom komentar, di jurnal koreksinya datang
dari reviewer, pakar yang menilai kelayakan tulisan sebelum memutuskan
diterima, direvisi, atau ditolak. Menerima catatan revisi dari reviewer rasanya
campur aduk, sakit tapi membangun.
FL Studio dan Malam-malam yang Menguras Penglihatan
Ada satu hobi lagi yang
diam-diam ikut menguras mata: bermain musik elektronik lewat FL Studio.
Ketertarikan ini muncul sejak awal kuliah, dipicu video-video dari kanal
YouTube Future Music Magazine yang mengulas proses kreatif musisi EDM dunia.
Saya kagum melihat bagaimana kombinasi bass, snare, dan kick bisa diracik jadi
melodi yang rapi.
Menekuni dunia musik secara
serius ternyata butuh komitmen dan lingkungan yang jauh lebih besar dari
sekadar bermodalkan aplikasi gratis. Meski begitu, hobi ini tetap jalan sebagai
kegiatan sampingan yang menyenangkan, biasanya saya lakukan larut malam saat
rumah sudah sepi. Tampilan antarmuka FL Studio yang penuh warna dan tool memang
menarik, tapi juga melelahkan mata, apalagi dikerjakan dalam kondisi minim
cahaya.
Kelelahan mata di sesi-sesi
seperti ini bukan cuma bikin pandangan buram, tapi juga menghambat aliran ide.
Ketika penglihatan terganggu, konsentrasi ikut runtuh dan proses kreatif jadi
tersendat. Dari situ saya semakin sadar, merawat mata bukan cuma soal
kenyamanan fisik, tapi juga soal menjaga kualitas kerja dan kreativitas.
Insto Dry Eyes, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas Padat
Dari semua rutinitas itu,
kerja kantoran, olahraga, perjalanan jauh, menulis blog dan jurnal, sampai
mengulik musik di FL Studio, satu benang merahnya jelas: mata bekerja nyaris
tanpa henti. Wajar kalau belakangan saya sering merasakan gejala mata kering
seperti perih, sepet, dan cepat lelah. Awalnya saya anggap sepele, ternyata
dampaknya cukup mengganggu, mulai dari pandangan buram sampai fokus menurun,
baik saat latihan maupun bekerja.
Dari situ saya mulai rutin
menggunakan INSTO DRY EYES, terutama sebelum dan sesudah latihan, atau saat
mata mulai terasa lelah menatap layar terlalu lama. Sensasinya sejuk, langsung
terasa menyegarkan, bukti kalau #BebasMataKering itu bukan sekadar slogan tapi
bisa benar-benar dirasakan lewat kebiasaan kecil sehari-hari. Bahkan saat harus
bermain di lapangan berdebu atau menembus jalanan berpolusi menuju gym,
#InstoDryEyes jadi andalan untuk mengembalikan kenyamanan mata dengan cepat.
Desainnya juga praktis,
ukurannya kecil, gampang diselipkan di tas atau bahkan saku baju dan celana.
Tinggal diteteskan kapan pun mata mulai terasa perih setelah beraktivitas
seharian.
Penutup
Di tengah padatnya rutinitas,
rapat kantor, sesi gym, lapangan sepak bola yang berdebu dan berlumpur,
tumpukan tulisan blog dan jurnal, sampai malam-malam panjang bersama FL Studio,
mata saya nyaris tak pernah benar-benar istirahat. Insto Dry Eyes hadir sebagai
solusi sederhana namun efektif, cukup diteteskan, dan penglihatan kembali segar
sepanjang hari.
Jadi sebelum aktivitas
berikutnya bikin mata benar-benar menyerah, ingat satu hal:
#MataSePeLeJanganSepelein. Setiap kali mata terasa sepet, perih, dan lelah,
jangan dianggap remeh, segera tetesin Insto Dry Eyes selagi masih ringan supaya tidak berlanjut jadi
gangguan yang lebih serius. Coba sekarang, rasakan sendiri bedanya.



.png)








0 comments